NILAI TUKAR RUPIAH

Kembali Melemah, Nilai Tukar Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS

Kembali Melemah, Nilai Tukar Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS
Kembali Melemah, Nilai Tukar Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan di pasar uang domestik pada Kamis (19 Februari 2026), dengan kurs pembukaan bergerak mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Data terbaru menunjukkan rupiah dibuka pada sekitar Rp16.933 per dolar AS, turun sekitar 49 poin atau 0,29 persen dari posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan tekanan mata uang Garuda di tengah dinamika pasar global dan ekspektasi investor yang terus berubah.

PERGERAKAN AWAL PERDAGANGAN

Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah langsung mencatat tren turun melawan dolar AS. Kurs Rp16.933 per dolar AS mengindikasikan rupiah berada di zona negatif meskipun belum mencapai angka psikologis Rp17.000. Pergerakan nilai tukar ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang mempengaruhi preferensi investor terhadap mata uang asing serta aset berdenominasi dolar AS.

Menurut pengamatan pelaku pasar, pelemahan nilai tukar kali ini tidak terlepas dari tekanan global yang membuat dolar AS lebih diminati oleh investor. Penguatan dolar terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah seringkali terjadi ketika terdapat ketidakpastian ekonomi global atau sinyal kebijakan moneter AS yang dianggap kuat, sehingga sejumlah modal cenderung masuk ke aset Aman.

Faktor GLOBAL DAN DOMESTIK YANG MENDORONG TURUNNYA RUPIAH

Sentimen global menjadi salah satu pendorong utama pergerakan rupiah pekan ini. Penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia membuat rupiah relatif lemah. Menurut data Bloomberg, dolar AS bahkan sempat menguat ke level yang lebih tinggi pada perdagangan pagi ini, mencerminkan preferensi global terhadap dolar sebagai aset aman.

Sentimen kuat terhadap dolar AS sebagian besar dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan daya tahan aktivitas ekonomi lebih tinggi daripada ekspektasi pasar. Data ekonomi non-pertanian, sektor perumahan, maupun indikator bisnis yang solid dapat mengurangi ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), yang pada gilirannya menguatkan nilai dolar.

Sementara itu, di dalam negeri, pelaku pasar memperhatikan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang akan dirumuskan dalam Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan sore ini. Sebagian analis khawatir pasar akan mengantisipasi kemungkinan sikap dovish BI, yang artinya kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan suku bunga daripada menahannya. Ketika ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter domestik terlihat lemah, mata uang lokal cenderung mengalami tekanan.

RESPON PEMERINTAH DAN ANALISIS PASAR

Meski nilai tukar rupiah kembali melemah, sejumlah pihak menilai bahwa kondisi ekonomi fundamental Indonesia tetap relatif kuat. Pemerintah dan otoritas terkait terus memonitor dinamika pergerakan valuta asing untuk menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas rupiah melalui sejumlah kebijakan fiskal dan koordinasi dengan Bank Indonesia.

Namun, analis pasar mencatat bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah jangka pendek. Penguatan dolar yang terus berlanjut, terutama terhadap mata uang di Asia, membuat tekanan pada rupiah semakin terasa. Hal ini menciptakan tekanan pada pasar valuta asing domestik, terutama ketika investor melakukan rebalancing portofolio mereka atau mencari aset yang dinilai relatif aman.

POTENSI PERGERAKAN KE DEPAN

Melihat grafik arus pasar dan data ekonomi global terbaru, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang fluktuatif. Beberapa analis memperkirakan bahwa kisaran pergerakan rupiah pada Kamis ini akan tetap berada di sekitar level Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS, tergantung perkembangan data ekonomi baru maupun respons kebijakan moneter domestik dan global.

Investor dan pelaku pasar lain diprediksi akan terus mencermati data yang dirilis dari AS maupun kebijakan moneter Bank Indonesia sebagai indikator utama arah pergerakan nilai tukar di hari-hari mendatang. Perubahan dalam suku bunga, ekspektasi inflasi, atau sentimen geopolitik global dapat mempengaruhi arah perdagangan rupiah dalam waktu dekat.

Secara historis, kurs rupiah sering mengalami tekanan ketika dolar AS menguat tajam dan investor global memilih aset berdenominasi dolar. Sebelumnya, kurs rupiah juga sempat nyaris menembus angka Rp17.000 per dolar AS pada awal tahun, menandakan tren pelemahan yang berkelanjutan dalam beberapa bulan terakhir.

DAMPAK EKONOMI NYATA

Pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak langsung pada berbagai sektor ekonomi, termasuk impor, harga barang, dan daya beli masyarakat. Ketika rupiah melemah, biaya impor barang kebutuhan bahan baku dan energi cenderung meningkat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga barang di pasar domestik. Selain itu, pelemahan mata uang juga dapat mempengaruhi keputusan investasi asing di pasar Indonesia.

Namun, dalam konteks perdagangan internasional, pelemahan kurs juga dapat membawa keuntungan bagi sektor ekspor karena produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global dalam denominasi dolar AS. Meskipun demikian, tekanan pada sektor lain tetap menjadi perhatian otoritas ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index