JAKARTA - Dalam perbincangan tentang masa depan energi, Dr. Robin Zeng, Chairman & CEO CATL, mengajak dunia melihat energi berkelanjutan bukan sekadar cita-cita iklim, tetapi sebagai momentum besar untuk memperkuat ekonomi dan teknologi global. Paparan ini disampaikan di forum internasional bergengsi yang mempertemukan pemimpin dan pemikir terkemuka dunia, menempatkan inovasi teknologi nol karbon sebagai jalan keluar dari tantangan energi abad ke-21.
Revolusi Energi Sebagai Tonggak Peradaban
Sejak awal peradaban, energi merupakan motor penggerak utama perubahan manusia. Perubahan dari energi fosil menuju energi terbarukan menandai era baru dalam sejarah, sama pentingnya seperti ketika manusia pertama kali beralih dari berburu-mengumpulkan ke kehidupan agraris. Saat ini, dunia tengah berada di tengah revolusi energi baru—menggabungkan tenaga angin, surya, dan teknologi penyimpanan baterai yang semakin efisien.
Dalam satu dekade terakhir, biaya baterai berbasis LFP dan tenaga surya telah turun sekitar 80%, menurut laporan dari International Energy Agency (IEA) dan BloombergNEF (BNEF). Penurunan biaya ini telah mengangkat energi terbarukan dari sekadar solusi teknis menjadi pilihan yang menarik secara ekonomi.
Teknologi Nol Karbon dalam Aksi Dunia Nyata
CATL tidak hanya berbicara soal teknologi; perusahaan ini sudah menerapkannya di berbagai tempat di dunia. Di Chile dan Republik Demokratik Kongo, sistem tenaga surya digabungkan dengan penyimpanan energi menyediakan listrik di lokasi terpencil dengan biaya hanya seperempat dari biaya generator diesel. Di sektor industri Pakistan, kombinasi pembangkit listrik tenaga surya dan penyimpanan energi berhasil memangkas biaya listrik pabrik semen hingga setengahnya.
Contoh lain datang dari California, di mana integrasi energi bersih dan sistem penyimpanan energi telah menekan ketimpangan antara kebutuhan listrik dan suplai tenaga surya—fenomena yang dikenal sebagai duck curve. Pada 2025, jaringan listrik setempat bahkan mencatat lebih dari 1.800 jam di mana energi bersih memenuhi atau melampaui total kebutuhan listrik, memperlihatkan potensi energi terbarukan yang sangat besar bila dibarengi teknologi penyimpanan.
Transformasi ini tidak semata soal menggantikan bahan bakar fosil, tetapi juga soal menciptakan sistem energi baru yang lebih stabil, efisien, dan terjangkau untuk masa depan.
Pilar Sistem Energi Masa Depan: Terdistribusi, Cerdas, Sirkular
Dr. Zeng merangkum sistem energi masa depan dengan tiga prinsip penting: terdistribusi, cerdas, dan sirkular. Pertama, sistem energi harus terdistribusi—menggabungkan pembangkit energi terbarukan dan sistem penyimpanan di berbagai titik, khususnya di wilayah dengan jaringan listrik yang lemah. Hal ini berarti mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil terpusat dan jaringan besar yang kaku.
Namun tingginya penetrasi energi terbarukan membawa tantangan baru bagi stabilitas sistem tenaga listrik. Untuk mengatasi ini, CATL mengembangkan teknologi penyimpanan energi grid-forming bertegangan tinggi. Teknologi ini mampu menjaga stabilitas frekuensi jaringan, melakukan damping control, mengatur kompensasi daya reaktif, bahkan menyediakan dukungan black start—kemampuan penting saat terjadi pemadaman besar.
Prinsip kedua, sistem cerdas, berkaitan dengan penggunaan data dan kecerdasan buatan (AI) untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan energi secara real-time. AI membantu mengelola fluktuasi listrik dari energi terbarukan—seperti yang telah dilakukan CATL di pusat data AI SenseTime di Shanghai.
Ketiga, ekonomi sirkular menjadi kunci untuk mencapai nol karbon. Tidak seperti bahan bakar fosil yang habis terbakar, bahan dalam sistem energi baru dapat didaur ulang. CATL telah mencapai tingkat daur ulang industri yang sangat tinggi: 99,6% untuk nikel dan kobalt, serta 96,5% untuk litium. Kerja sama dengan lembaga sosial dan mitra industri memperkuat konsep ekonomi sirkular ini.
Menyongsong Era Energi Berkelanjutan 2030
Menurut Zeng, era energi berkelanjutan bukan hanya mimpi: 2030 akan menjadi awal dari era ini jika teknologi terus berkembang dan diimplementasikan secara luas. Walau begitu, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Dengan teknologi saat ini, manusia baru menyelesaikan kurang dari 30% dari sistem energi yang benar-benar berkelanjutan—artinya masih banyak inovasi besar yang harus muncul.
Untuk membawa inovasi dari laboratorium ke pasar, dibutuhkan investasi besar di sektor penelitian dan pengembangan (litbang). CATL berinvestasi lebih besar dibanding seluruh pemain industri lain jika digabungkan, terutama pada teknologi baterai terkondensasi, solid-state, dan surya perovskit.
Upaya global melawan pemanasan juga membutuhkan kerja sama lintas negara dan sektor. Meski sering dipandang sebagai isu iklim, Zeng menegaskan bahwa isu ini sejatinya juga soal energi dan pembangunan. CATL pun bersedia berbagi teknologi dan pengalaman, serta mendorong produksi lokal untuk pasar lokal melalui lisensi teknologi kepada mitra.
Tantangan, Regulasi, dan Kolaborasi
Meski teknologi makin murah dan efisien, tantangan tetap muncul, termasuk regulasi yang kadang justru meningkatkan biaya produksi. Zeng mengusulkan pembentukan kawasan ekonomi khusus yang menerapkan regulasi bangunan dan peralatan seperti di Tiongkok untuk mempercepat produktivitas dan adopsi teknologi energi baru.
Sebagai penutup, Zeng mengingatkan data riset terbaru dari Columbia University yang memproyeksikan kenaikan suhu global 1,7°C di atas kondisi praindustri pada 2027—tepat di depan mata. Untuk itu, sistem energi berkelanjutan harus segera dibangun melalui terobosan teknologi, keberanian, dan kebijaksanaan bersama.