BANK INDONESIA

BI Pastikan Rupiah Tetap Stabil dan Berpotensi Menguat Terus

BI Pastikan Rupiah Tetap Stabil dan Berpotensi Menguat Terus

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS, sejalan dengan kekuatan fundamental ekonomi nasional. Meski pada perdagangan Senin (2/2/2026) ada sedikit tekanan, optimismenya tetap tinggi. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun tipis 0,03% di level Rp16.785/US$. Padahal, di awal perdagangan pagi, rupiah sempat menguat 0,06% menjadi Rp16.770/US$.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, "Jadi kemarin-kemarin kan di level Rp16.900-an kan ya, pelan-pelan kemudian sekarang di level Rp16.700-Rp16.800. Kita tentunya optimis bagaimana disampaikan Pak Gubernur bahwa rupiah akan cenderung menguat."

Menurutnya, prospek ekonomi Indonesia yang solid serta yield surat berharga negara yang kompetitif menjadi faktor utama penguatan rupiah. "Karena prospek ekonomi Indonesia, karena fundamental Indonesia bagus, dan juga tentunya karena yield surat berhaga Indonesia yang kompetitif. Dan kita harapkan semua pihak juga bisa ikut sama-sama menciptakan kondisi yang kondusif untuk pasar keuangan Indonesia yang lebih baik," tegas Ramdan Denny.

Peran BI dalam Menjaga Stabilitas Kurs
Ramdan menegaskan, BI akan terus aktif di pasar keuangan untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental. Intervensi akan dilakukan bila diperlukan guna menjaga stabilitas kurs.

"Artinya BI tetap akan mengoptimalkan semua instrumen yang ada untuk membawa rupiah itu stabil dan cenderung menguat, kan gitu ya. Dan ini yang kita lakukan apabila diperlukan bisa intervensi ya, baik di pasar domestik maupun di pasar offshore. Dan tentunya kan secara bertahap rupiah bisa dibuat stabil," ujarnya.

Langkah ini menunjukkan komitmen BI dalam menciptakan lingkungan pasar yang sehat dan mengurangi volatilitas yang dapat mengganggu perekonomian.

Rupiah dan Target Level Rp15.000
Ketika ditanya wartawan mengenai kemungkinan BI mengawal rupiah hingga Rp15.000/US$, Ramdan menekankan bahwa bank sentral tidak menargetkan angka tertentu, melainkan fokus pada stabilitas.

"Artinya kita tidak akan me-level kan ya, tapi yang penting adalah bagaimana rupiah tetap stabil, dan setelah bertahap itu menguat, kan gitu ya. Jadi tentunya ini semuanya tergantung faktor global dan juga domestik," katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa meski ada optimisme terhadap penguatan rupiah, BI lebih menekankan langkah bertahap dan terukur, dengan mempertimbangkan kondisi global dan domestik.

Faktor Global dan Domestik Menentukan Pergerakan Rupiah
Fluktuasi nilai tukar rupiah tidak lepas dari pengaruh faktor eksternal seperti pergerakan dolar AS, kebijakan moneter global, dan kondisi pasar internasional. Sementara itu, faktor domestik, termasuk fundamental ekonomi dan stabilitas politik, juga turut memengaruhi arah penguatan rupiah.

Dengan kombinasi faktor ini, BI menekankan pentingnya menjaga sinergi antara kebijakan internal dan respon pasar global untuk menjaga rupiah tetap stabil.

Optimisme Terhadap Pasar Keuangan Indonesia
Secara keseluruhan, BI optimis bahwa rupiah akan cenderung menguat seiring dengan prospek ekonomi Indonesia yang solid. Keberadaan instrumen moneter yang kompetitif dan langkah intervensi yang terukur diyakini mampu menciptakan kondisi pasar yang kondusif.

Ramdan Denny menekankan bahwa semua pihak diharapkan ikut menciptakan lingkungan pasar yang stabil. Dengan demikian, penguatan rupiah dapat berlangsung secara bertahap tanpa menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index