JAKARTA - Perempuan di desa pesisir memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekonomi keluarga dan lingkungan. Mereka tidak hanya menjadi penjaga dapur, tetapi juga tulang punggung kehidupan sosial dan ekonomi desa. Di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, semangat itu tumbuh kuat melalui program pemberdayaan yang digagas oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara atau PLN UIP Nusra bersama Koperasi Desa Merah Putih.
Program bertajuk Desa Eco-Bahari ini menjadi titik awal perubahan besar bagi para perempuan pesisir. Melalui pelatihan yang komprehensif, para peserta didorong untuk mengembangkan potensi hasil laut menjadi produk bernilai tinggi. Dengan dukungan GM Bapak Rizki Aftarianto, PLN UIP Nusra menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen pembangunan ekonomi hijau dan berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Kolaborasi PLN UIP Nusra dan Koperasi Desa Merah Putih Membangun Ekonomi Pesisir
Kolaborasi ini berawal dari kesadaran bahwa potensi hasil laut di Lifuleo sangat besar, namun belum dikelola secara optimal. PLN UIP Nusra melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) menggandeng Koperasi Desa Merah Putih untuk memperkuat kapasitas masyarakat, terutama perempuan.
GM Bapak Rizki Aftarianto menjelaskan bahwa sinergi ini tidak hanya berorientasi pada pelatihan teknis, tetapi juga pada peningkatan kemampuan wirausaha dan literasi digital. Menurutnya, perempuan pesisir memiliki kemampuan adaptif yang tinggi dan menjadi penggerak utama ekonomi desa jika diberikan ruang dan kesempatan.
“PLN UIP Nusra percaya bahwa pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan desa, adalah kunci menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Kami berkomitmen menghadirkan program yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Rizki.
Koperasi Desa Merah Putih menjadi mitra utama dalam implementasi program ini, menyediakan fasilitas produksi, peralatan modern, dan pendampingan bisnis. Dengan kerja sama ini, masyarakat tidak hanya diajarkan mengolah hasil laut, tetapi juga diajak memahami rantai nilai ekonomi dari bahan mentah hingga produk siap jual.
Pelatihan Praktis Mengubah Cara Pandang dan Keterampilan Perempuan Desa
Kegiatan pelatihan di Desa Lifuleo berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025. Peserta yang mayoritas ibu rumah tangga diberikan kesempatan belajar langsung dari tenaga ahli dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang. Mereka diajak mempraktikkan pengolahan hasil perikanan dan rumput laut menjadi berbagai produk unggulan seperti abon ikan tuna, bakso ikan, sambal ikan, nugget ikan, hingga mie rumput laut.
Suasana pelatihan penuh antusiasme. Banyak peserta yang baru pertama kali menggunakan alat-alat produksi modern seperti vacuum sealer, chopper, dan cetakan mie. Bagi mereka, alat-alat ini bukan sekadar teknologi baru, tetapi simbol perubahan menuju kemandirian ekonomi.
Ibu Ola, salah satu peserta, mengungkapkan rasa bangganya bisa mengikuti program ini. “Kami diajari hal baru yang membuka pikiran. Dari cara mengemas produk sampai cara menjual lewat media sosial, semua sangat bermanfaat,” ujarnya dengan penuh semangat.
Pelatihan ini juga mencakup aspek manajemen usaha kecil, strategi pemasaran digital, hingga pembukuan sederhana. Para peserta kini memiliki pengetahuan lengkap untuk menjalankan usaha dari rumah dengan cara yang efisien dan profesional.
Inovasi Desa Eco-Bahari dan Dampak Ekonomi Berkelanjutan
Program Desa Eco-Bahari di Lifuleo bukan hanya sekadar pelatihan jangka pendek. Inisiatif ini dirancang untuk menjadi model desa berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Melalui sinergi PLN UIP Nusra, Koperasi Desa Merah Putih, dan dukungan pemerintah daerah, masyarakat diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya laut tanpa merusak ekosistem pesisir.
Dampak positif mulai terlihat sejak program berjalan. Produk-produk olahan rumput laut dan ikan kini mulai dijual di pasar lokal Kupang dan secara daring melalui platform digital. Sebagian kelompok perempuan bahkan telah menerima pesanan dari luar daerah. Pendapatan keluarga meningkat signifikan, dan peran perempuan dalam ekonomi desa semakin kuat.
Selain memberikan keuntungan ekonomi, program ini juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Muncul solidaritas baru antarwarga desa dalam membangun usaha bersama. Setiap rumah kini menjadi bagian dari rantai produksi, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga distribusi.
GM Bapak Rizki Aftarianto menyebutkan bahwa keberhasilan program ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan pesisir mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan energi dan ekonomi berkelanjutan. “Dengan dukungan Koperasi Desa Merah Putih dan PLN UIP Nusra, masyarakat tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga lingkungan,” katanya.
Menuju Kemandirian Energi dan Ekonomi Melalui Kolaborasi Berkelanjutan
PLN UIP Nusra dan Koperasi Desa Merah Putih berencana memperluas jangkauan program ke desa-desa pesisir lain di Nusa Tenggara Timur. Melalui pendekatan community-based development, masyarakat didorong untuk terus berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global.
Langkah ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pemberdayaan perempuan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan akses energi bersih.
Program Desa Eco-Bahari menjadi wujud nyata bagaimana sinergi antara perusahaan, koperasi, dan komunitas lokal dapat menciptakan dampak positif berlapis. Tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat fondasi sosial dan budaya masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada sumber daya laut.
PLN UIP Nusra melalui kepemimpinan GM Bapak Rizki Aftarianto berkomitmen menjadikan Desa Lifuleo sebagai contoh keberhasilan transformasi sosial-ekonomi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Koperasi Desa Merah Putih pun siap melanjutkan pendampingan bagi pelaku usaha mikro perempuan agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas.