MENU BUKA PUASA

Solidaritas Warga Aceh Tamiang Siapkan Menu Buka Puasa Pascabencana Alam

Solidaritas Warga Aceh Tamiang Siapkan Menu Buka Puasa Pascabencana Alam
Solidaritas Warga Aceh Tamiang Siapkan Menu Buka Puasa Pascabencana Alam

JAKARTA - Desa Banai di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, yang masih dalam pemulihan pascabanjir bandang November 2025, pada sore hingga malam hari Minggu, 22 Februari 2026 berubah menjadi pusat aktivitas warga yang bahu membahu menyediakan hidangan berbuka puasa bagi sesama korban bencana.

Semangat Gotong Royong di Dapur Umum Desa Banai

Waktu sore hari di sebuah rumah warga bernama Buchari —yang disulap menjadi dapur umum— dipenuhi oleh belasan ibu-ibu dari berbagai pelosok sekitar desa. Tanpa harus diminta, mereka saling membagi tugas: beberapa menyiapkan bumbu, yang lain memasak nasi, membersihkan sayuran, hingga mengolah potongan ayam. Semua kegiatan itu dilakukan dengan ritme yang terkoordinasi, seakan diatur oleh naluri kebersamaan di tengah masa sulit.

Sejak bahan baku tiba di lokasi, antusiasme ibu-ibu tampak tinggi. Mereka memanfaatkan stok beras, sayuran, telur, minyak, serta bumbu yang dikirim oleh Lazisnu Jawa Timur untuk mengolah makanan berbuka puasa. Tidak hanya itu, relawan dan warga setempat juga menyiapkan peralatan masak agar segala proses dapat berjalan efektif tanpa hambatan berarti.

Menu Buka Puasa untuk Warga yang Terdampak

Rosnawati, salah satu warga yang ikut serta dalam persiapan makanan, menjelaskan kepada media bahwa menu utama pada malam itu adalah ayam goreng dan tumis sawi. Ia menjelaskan bahwa setelah makanan matang, warga lain akan dipanggil untuk datang menikmati hidangan bersama.

Selain hidangan utama saat berbuka, ibu-ibu di desa itu juga telah merencanakan menu sahur yang berbeda namun tetap dibuat dalam jumlah besar. Jumlah porsi yang disiapkan mencapai 200 untuk berbuka, dan sama banyaknya pula untuk sahur. Ini mencerminkan usaha warga untuk memastikan keberlangsungan asupan nutrisi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.

Ritme Kehidupan Pascabencana yang Belum Pulih

Desa Banai sebenarnya belum pulih sepenuhnya dari dampak banjir bandang akhir November 2025 yang lalu. Banyak rumah warga rusak parah dengan endapan lumpur yang masih terlihat jelas di hampir seluruh bagian struktur bangunan. Ketinggian air yang pernah menyentuh atap rumah menjadi saksi betapa dahsyatnya bencana yang melanda.

Sejumlah tenda darurat didirikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di halaman rumah warga maupun di sepanjang jalan desa. Tenda-tenda ini kini menjadi tempat tinggal sementara, sebab rumah penduduk belum sepenuhnya bisa dihuni kembali. Kegiatan warga pun belum sepenuhnya kembali normal dan masih sangat terbatas.

Ramadan di Tengah Kondisi Serba Terbatas

Kondisi ini mengingatkan pada tantangan yang dihadapi warga Aceh Tamiang lainnya saat menjalankan ibadah Ramadan di tengah tenda pengungsian dan keterbatasan fasilitas. Seorang ibu di salah satu tenda pengungsian berbagi bahwa meskipun berpuasa di bawah terik panas tenda bukan hal mudah, ia ingin anak-anaknya tetap menjalani ibadah puasa dan meminta doa agar diberi kekuatan.

Kesadaran warga untuk tetap mempertahankan tradisi dan ibadah keagamaan meskipun tengah diterpa kesulitan menunjukkan keteguhan hati yang kuat. Mereka tidak hanya fokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga spiritual selama bulan suci Ramadan. Keberadaan dapur umum dan dukungan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga kebersamaan umat.

Peran Organisasi dan Relawan dalam Mendukung Komunitas

Peran organisasi kemanusiaan seperti Lazisnu Jawa Timur dan relawan lokal sangat berarti dalam mendukung kebutuhan pokok masyarakat Desa Banai. Bantuan ini tidak hanya berupa bahan pangan, tetapi juga semangat gotong royong di masa penuh tantangan. Upaya seperti ini juga tercermin di daerah-daerah lain di Aceh, di mana berbagai dapur umum dan kegiatan buka puasa bersama terus digelar oleh pihak lembaga maupun komunitas lokal untuk membantu warga terdampak bencana.

Kisah warga di Desa Banai yang saling bahu membahu mengolah dan menyajikan makanan buka puasa menjadi contoh nyata bagaimana kebersamaan dan solidaritas dapat menguatkan semangat komunitas di tengah masa pemulihan pascabencana. Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, mereka berupaya menjaga tradisi ibadah dan kemanusiaan di bulan Ramadan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index