Laba Bersih Summarecon (SMRA) Turun 33,98% di Semester I 2026

Laba Bersih Summarecon (SMRA) Turun 33,98% di Semester I 2026
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menorehkan penyusutan performa sepanjang paruh pertama tahun 2026. Merujuk pada laporan keuangan yang dirilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (31/7/2026), SMRA melaporkan pendapatan bersih senilai Rp 4,25 triliun hingga 30 Juni 2026. 

Angka ini merosot 7,18% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp 4,58 triliun.

Mayoritas pendapatan perusahaan disumbang oleh segmen pengembangan properti dengan nilai Rp 2,55 triliun. Selanjutnya, segmen properti investasi memberikan kontribusi sebesar Rp 1,2 triliun, disusul oleh segmen lainnya sebanyak Rp 493,67 miliar. 

Di sisi lain, beban pokok penjualan maupun beban langsung mengalami penyusutan menjadi Rp 2,12 triliun pada akhir Juni 2026, dari sebelumnya berada di level Rp 2,28 triliun.

Perusahaan mencatat laba kotor sebesar Rp 2,13 triliun, terkoreksi 7,67% secara tahunan (year on year/YoY). Dengan demikian, SMRA membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih senilai Rp 332,38 miliar pada semester I 2026, yang berarti anjlok 33,98% secara YoY. 

Sejalan dengan hal tersebut, laba per saham dasar juga menyusut ke level Rp 20,13 pada penghujung Juni 2026 dari posisi sebelumnya Rp 30,50.

Hingga 30 Juni 2026, total aset SMRA tercatat mencapai Rp 41,30 triliun. Nilai tersebut mengalami pertumbuhan jika dibandingkan pencapaian sebesar Rp 38,34 triliun pada 31 Desember 2025. 

Sejalan dengan pertumbuhan aset, jumlah liabilitas perseroan turut meningkat menjadi Rp 24,91 triliun di pengujung Juni 2026, dari sebelumnya Rp 22,33 triliun pada akhir Desember 2025.

Sementara itu, total ekuitas perusahaan berada di angka Rp 16,39 triliun hingga akhir Juni 2026, menanjak dari Rp 16 triliun pada penghujung tahun 2025. 

Posisi kas dan setara kas SMRA juga menunjukkan peningkatan menjadi Rp 4,83 triliun di akhir Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp 3,74 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index