Prospek Asuransi Properti GEGI Tetap Cerah Hingga Akhir 2026

Prospek Asuransi Properti GEGI Tetap Cerah Hingga Akhir 2026
PT Great Eastern General Insurance (GEGI) melihat masih terdapat potensi ekspansi pada sektor asuransi properti sampai pengujung tahun 2026. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Great Eastern General Insurance (GEGI) melihat masih terdapat potensi ekspansi pada sektor asuransi properti sampai pengujung tahun 2026, khususnya dari kalangan korporasi, komersial, ritel, serta UMKM. 

Direktur Pemasaran GEGI, Linggawati Tok menyatakan keyakinan tersebut didorong oleh naiknya kebutuhan pengamanan aset akibat lonjakan nilai properti beserta tingginya kesadaran para pebisnis terhadap krusialnya manajemen risiko.

“Untuk mendorong pertumbuhan bisnis properti hingga akhir tahun, perusahaan akan tetap menerapkan prinsip underwriting yang disiplin dan selektif. Namun, secara aktif memperluas penetrasi pada risiko-risiko yang memenuhi kriteria profitabilitas dan kualitas portofolio,” ucapnya, Jumat (31/7/2026).

Selain itu, lanjutnya, GEGI akan konsisten merapatkan kolaborasi bersama pialang, agen, dan mitra bisnis strategis, memaksimalkan penjualan silang ke nasabah yang sudah ada, serta merancang solusi proteksi yang selaras dengan kebutuhan pasar.

“Dengan strategi tersebut, perusahaan berharap dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas hasil underwriting,” sebut Linggawati.

Kendati demikian, Linggawati mengemukakan bahwa hambatan yang dirasakan perseroan saat ini ialah mempertahankan portofolio yang sehat di tengah tingginya frekuensi klaim belakangan ini, baik yang bersumber dari risiko kebakaran maupun bencana alam. Tak hanya itu, persaingan di pasar pun tidak terhindarkan.

Guna mengatasi persoalan tersebut, GEGI mengalihkan atau membagi fokus yang mulanya hanya menyasar korporasi berskala besar, kini mulai gencar memasarkan produk ke ranah ritel dan UMKM serta memaksimalkan jaringan distribusi yang telah tersedia.

Di sisi lain, Linggawati juga memandang bahwa salah satu unsur yang menjadikan asuransi properti sebagai salah satu penyumbang terbesar premi industri asuransi umum dikarenakan meningginya kesadaran risiko dari kalangan pebisnis, baik dari kalangan korporasi maupun ritel.

“Mereka semakin sadar bahwa banyak risiko tidak terduga yang dapat terjadi dan mengancam keberlangsungan bisnis, termasuk risiko akibat ketidakpastian iklim dan risiko bencana alam. Melindungi aset bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan wajib dan juga dalam dunia bisnis polis asuransi diwajibkan oleh perbankan,” tutupnya.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per April 2026, lini usaha properti masih menjadi salah satu pilar utama industri. Pada industri asuransi umum gabungan, premi lini usaha harta benda tercatat sebesar Rp10,96 triliun dengan klaim sebesar Rp4,28 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index