Produksi Minyak Baru Sumur Salawati di Papua Tambah 350 Barel/ Hari dan Dukung Target APBN 2026

Senin, 23 Februari 2026 | 11:23:00 WIB
Produksi Minyak Baru Sumur Salawati di Papua Tambah 350 Barel/ Hari dan Dukung Target APBN 2026

JAKARTA - Keberhasilan pengeboran sumur pengembangan SLW-E006 di Lapangan Salawati, Papua Barat, yang menghasilkan tambahan produksi minyak sebanyak 350 barel per hari, dinilai menjadi langkah strategis dalam mendukung pencapaian target produksi minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Tambahan ini dipandang penting karena saat ini pemerintah tengah berupaya mempertahankan dan menggenjot lifting minyak nasional menghadapi tren penurunan produksi pada sumur-sumur existing.

Perluasan Kapasitas Produksi di Papua

Sumur SLW-E006 merupakan bagian dari program pemboran yang dikelola oleh PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat. Pengeboran sumur pengembangan ini dimulai pada akhir Desember 2025 dan berhasil menemukan minyak pada 16 Februari 2026 setelah mencapai kedalaman 2.165 meter measured depth (mMD), menembus lapisan Kais Carbonate yang diincar. 
Dalam pengujian awal, sumur menunjukkan hasil produksi sementara mencapai 350 barel minyak per hari, yang berarti dapat langsung berkontribusi terhadap produksi nasional. Total waktu pengerjaan dari fase pengeboran hingga uji produksi sekitar 43 hari.

Strategi Teknis untuk Optimalisasi Sumur

Teknologi pengeboran modern menjadi kunci dalam pengembangan sumur tersebut. Salah satunya adalah penggunaan teknik Casing While Drilling (CWD) di level 13-3/8 inci yang memungkinkan pemasangan casing bersamaan dengan pengeboran, sehingga mengurangi risiko dan mempercepat waktu operasi. Pendekatan lain yang diterapkan adalah wellbore strengthening pada zona batuan rapuh (rumble zone), yang dirancang untuk memperkuat dinding sumur dan mencegah gangguan besar selama pengeboran.

Kontribusi terhadap Target Nasional

Tambahan produksi 350 barel per hari dari sumur SLW-E006 dianggap signifikan untuk mendukung target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari yang tercantum dalam APBN 2026. Sumur ini merupakan sumur kedua yang berhasil dibor dari total empat sumur yang direncanakan dalam rangkaian program di Lapangan Salawati. Keberhasilan ini mencerminkan upaya menjaga tingkat produksi di tengah tantangan penurunan alami produksi sumur-sumur existing di seluruh wilayah kerja.

Secara historis, pemerintah bersama dengan regulator dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus mendorong percepatan pemboran sumur baru dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi tren penurunan lifting yang umumnya terjadi karena sumur-sumur yang sudah mature (tua). Upaya semacam ini juga sejalan dengan target yang lebih tinggi dalam lifting migas untuk beberapa tahun ke depan yang mempertimbangkan kebutuhan energi domestik dan kinerja sektor hulu migas secara keseluruhan.

Aspek Efisiensi dan Biaya Proyek

Manajemen proyek menyampaikan bahwa realisasi biaya pengeboran sumur SLW-E006 tercatat mencapai USD 9,774,829.7, atau sekitar 94 persen dari Authorization for Expenditure (AFE) yang disetujui. Angka ini menunjukkan efisiensi yang dijaga dalam pelaksanaan proyek, meminimalkan pembengkakan biaya sambil tetap menerapkan teknologi tinggi dalam pengeboran dan completion sumur.

Keberhasilan ini tidak hanya bernilai dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi manajemen proyek yang mengoptimalkan penggunaan teknologi serta anggaran. Efisiensi ini menjadi poin penting, terutama pada kondisi pasar migas global yang dinamis dan kadang menekan margin keuntungan.

Harapan terhadap Sumur-Sumur Selanjutnya

Pihak manajemen mengungkapkan harapan besar bahwa dua sumur berikutnya dalam program pengeboran di Lapangan Salawati dapat memberikan hasil produksi yang sama bahkan lebih besar. Dengan demikian, kontribusi terhadap target nasional bisa lebih optimal dan membantu mengejar keterlambatan jika ada dalam pencapaian KPI produksi migas nasional.

Harapan ini mencerminkan optimisme yang dibangun tidak hanya dari keberhasilan teknis sumur SLW-E006, tetapi juga dari komitmen untuk mempertahankan produksi nasional di tengah tantangan — baik internal maupun eksternal — yang mempengaruhi sektor hulu migas secara luas.

Secara keseluruhan, produksi baru dari sumur pengembangan di Papua ini menunjukkan bahwa langkah strategis melalui pengembangan sumur yang memanfaatkan teknologi pengeboran modern dapat membantu memperkuat produksi minyak nasional dan mendukung target APBN, meskipun tantangan produksi secara alami terus membayangi sektor migas Indonesia.

Terkini