IKI Juli 2026 Menguat ke 53,10, Sektor Manufaktur Tunjukkan Ketahanan

Jumat, 31 Juli 2026 | 00:55:31 WIB
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan bahwa aktivitas sektor manufaktur di tanah air kembali menunjukkan tren penguatan pada Juli 2026, usai sempat menemui hambatan terkait produksi serta permintaan di periode sebelumnya. 

Hal tersebut tampak dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode Juli 2026 yang mengalami kenaikan ke posisi 53,10, dari catatan bulan Juni yang berada di angka 52,90.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengutarakan bahwa peningkatan IKI ini memperlihatkan daya tahan sektor industri nasional di tengah berbagai tekanan yang sempat mengganggu jalannya aktivitas manufaktur. 

Sampai dengan Juli 2026, tercatat sebanyak 22 dari total 23 subsektor industri pengolahan sukses berada pada fase ekspansi dengan perolehan kontribusi menyentuh 98,6% terhadap produk domestik bruto (PDB) nonmigas.

"Industri dalam negeri kembali menunjukkan resiliensinya menghadapi berbagai tekanan pada sisi produksi ataupun demand pada pasar domestik dan global yang ditunjukkan oleh kenaikan IKI sebesar 0,20 dari 52,90 pada bulan Juni menjadi 53,10 bulan Juli 2026. Hal ini mencerminkan ketahanan sektor industri di tengah berbagai tantangan global sekaligus menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional," kata Febri dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Lebih lanjut, berdasarkan komponen pembentuk IKI, dia menyebut, variabel permintaan baru meningkat 0,45 poin menjadi 53,80, sementara variabel produksi naik 0,27 poin menjadi 54,55. 

Menurut Febri, pemulihan di sektor produksi mengindikasikan bahwa rantai pasok industri berangsur membaik setelah bulan sebelumnya sempat terkendala masalah seperti pemadaman aliran listrik, lonjakan harga gas sektor industri, serta tingginya harga bahan baku impor.

"Rantai pasok industri dalam negeri pada bulan Juli 2026 menunjukkan aktivitas lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan Juni lalu, industri dalam negeri mengalami masalah pada sisi produksi seperti pemadaman listrik, kenaikan harga gas industri dan kenaikan harga bahan baku impor telah teratasi dengan baik," jelasnya.

Meskipun demikian, ia menuturkan bahwa variabel persediaan masih tertahan dalam fase kontraksi, utamanya dikarenakan sejumlah pelaku industri memilih menahan stok hasil produksi sambil memantau perkembangan kebijakan serta insentif dari pemerintah, sebelum akhirnya mendistribusikan barang ke pasaran.

Ditinjau dari subsektornya, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer beserta industri minuman dikabarkan mencatatkan hasil kinerja yang paling optimal. 

Sebaliknya, sektor industri kulit, barang dari kulit, serta alas kaki masih terjebak di fase kontraksi akibat lesunya permintaan ekspor serta membengkaknya biaya logistik global.

Hasil survei Kemenperin turut merincikan bahwa 77,9% responden menilai situasi usaha mengalami perbaikan atau cenderung stabil bila dibandingkan bulan sebelumnya. 

Di sisi lain, angka pesimisme para pelaku usaha terhadap prospek enam bulan ke depan mengalami penurunan ke angka 7%, kendati tingkat optimisme turut mengalami koreksi ke level 67,8%.

“Kementerian Perindustrian terus memperkuat berbagai kebijakan strategis untuk menjaga daya saing industri nasional, antara lain percepatan implementasi harga gas bumi tertentu [HGBT], penguatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan TKDN, pengendalian impor, percepatan industrialisasi, serta penguatan investasi manufaktur berteknologi tinggi agar Indonesia semakin terintegrasi dalam rantai pasok global,” terang Febri.

Terkini

Concacaf Tolak Proposal Baru FIFA Terkait FFE

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:23:01 WIB

Caroline Dubois Gabung Tim Manny Robles Untuk Babak Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:18:31 WIB

PSS Sleman Siap Hadapi Jadwal Padat Musim 2026/2027

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:17:01 WIB