Cegah Kekerasan, PBNU Gencarkan Edukasi Reproduksi Santri

Jumat, 31 Juli 2026 | 17:42:31 WIB
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa peningkatan edukasi kesehatan reproduksi bagi para santri sangatlah penting. (Foto: NET)

JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa peningkatan edukasi kesehatan reproduksi bagi para santri sangatlah penting. Hal ini menjadi upaya strategis dalam membentuk karakter, merawat kesehatan jasmani, serta menekan risiko kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren.

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Kerakyatan, Alissa Qatrunnada Wahid, pada hari Jumat di Jakarta menyampaikan bahwa pondok pesantren memegang peranan yang amat potensial untuk menumbuhkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi lantaran mengemban fungsi ganda secara berbarengan.

"Pesantren punya dua-duanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sekaligus juga ruang pengasuhan," ungkapnya.

Alissa memandang, pada masa sekarang banyak anak muda yang menerima paparan informasi terkait perilaku seksual dari beragam saluran tanpa disertai dasar pengetahuan yang cukup.

Maka dari itu, penyuluhan kesehatan reproduksi di kawasan pesantren menjadi sangat krusial supaya para santri mampu menentukan pilihan yang paling tepat untuk diri mereka sendiri.

Lewat program Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), PBNU mengadakan Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren Gelombang Kedua yang bertempat di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur.

Agenda yang ditujukan bagi para pengelola pesantren tersebut diselenggarakan demi merancang sekaligus mensosialisasikan modul spesifik seputar edukasi kesehatan reproduksi khas pesantren.

Inisiatif ini tidak hanya berhenti sebatas halaqah, tetapi bakal diteruskan lewat agenda Training of Trainers (TOT) bagi ustadz dan ustadzah, serta penciptaan santri sebagai pendidik sebaya (peer educator). 

Lebih dari itu, para pengelola muda semacam gus dan ning juga turut dipacu untuk memakai media sosial sebagai instrumen edukasi digital.

Marlina Rully Wahyuningrum, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja dari Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan kalangan muda ini semakin mendesak seiring melonjaknya angka gangguan kesehatan di Tanah Air.

Kemenkes membenarkan bahwa data dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di tingkat sekolah memperlihatkan ada sebanyak 30 persen murid di jenjang kelas 7 dan 10 yang terdiagnosis mengidap anemia.

Menurut Marlina, situasi ini sering kali menjadi lebih parah akibat fenomena growth spurt atau fase pertumbuhan cepat di masa remaja yang tidak dibarengi dengan konsumsi gizi seimbang, di samping persepsi mengenai bentuk tubuh (body image) yang salah sehingga memicu gangguan pola makan pada remaja perempuan.

Dengan disusunnya modul yang menyeluruh oleh GKMNU, edukasi kesehatan reproduksi di pondok pesantren diyakini mampu menjauhkan santri dari berbagai dampak buruk, mulai dari isu gizi buruk, paparan negatif jejaring sosial, hingga ancaman kekerasan seksual.

Terkini