Alasan JV Arutmin-KPC Pilih Bangun PLTU Sendiri

Kamis, 30 Juli 2026 | 01:38:01 WIB
PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) berniat membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mandiri guna menopang proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) berniat membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mandiri guna menopang proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol. 

Proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol yang bertempat di Kutai Timur, Kalimantan Timur tersebut turut menggandeng PT Istana Karang Laut (IKL) serta China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC).

Presiden Direktur BEC Rio Supin mengutarakan bahwa penggunaan PLTU mandiri merupakan pilihan rasional serta efisien untuk proyek tersebut.

"Karena kan kami hilirisasi batu bara. Jadi kalau misalnya [pembangkit listrik] yang nonbatu bara jadi enggak masuk secara secara dari awal basic kan yang mau dihilirisasi ini kan batu bara," ucap Rio ditemui di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Rio turut menyatakan, pemanfaatan steam atau uap secara langsung dari boiler bakal jauh lebih efektif ketimbang mengubah energi secara bertahap.

"Dan juga karena tadi butuh steam yang besar tadi. Kalau kami pakai analoginya, misalnya kami [pembangkit listrik tenaga] solar, terus listrik bikin [dipakai untuk] kompor listrik lagi, padahal yang kami butuh itu dari boiler ambil uapnya langsung. Jadi emang PLTU bangun sendiri," jelas Rio.

BEC baru saja menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement demi pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol. 

Proyek bernilai US2,3miliaratausetaraRp41,54triliun(denganasumsikursRp18.063perUS) itu ditargetkan dapat beroperasi penuh pada 2030. Pada fase pertama, produksi dari proyek tersebut sanggup mencapai 2 juta ton metanol serta maksimal 3,6 juta ton metanol pada tahap berikutnya.

Rio menuturkan, proyek strategis nasional (PSN) itu merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban peningkatan nilai tambah batu bara oleh pihak Arutmin serta KPC. 

Proyek ini pun menyokong implementasi kebijakan hilirisasi nasional melalui konversi batu bara menjadi metanol sebagai bahan baku strategis bagi bermacam sektor industri, termasuk petrokimia, manufaktur, energi, serta industri turunannya.

Rio pun mengungkapkan, kelak metanol yang dihasilkan bakal dijual ke pasar domestik. Terlebih, saat ini pemerintah tengah menggalakkan penggunaan biodiesel B50.

"Jadi target utamanya adalah para domestik market. Jadi seperti itu. Nah, tinggal lihat siapa pengguna market, kan sekarang yang paling tinggi yang biodiesel kan. Jadi yang penghasil FAME-FAME [Fatty Acid Methyl Ester] itu ya kan target utamanya," jelas Rio.

Dia membeberkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kebutuhan metanol di Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada 2025. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 68% atau sekira 1,3 juta ton masih impor. 

Lewat impor tersebut, secara devisa Indonesia menghabiskan sekitar US$400 juta per tahun atau setara Rp7,1 triliun.

"Di tahun 2026 ini dengan kondisi geopolitik perang di Timur Tengah, harga metanol naik secara signifikan sehingga kami perkirakan devisa kami yang keluar untuk impor metanol jauh lebih tinggi. Hal inilah yang mendasari pemilihan kami kepada produk metanol dibandingkan beberapa produk lain yang dapat dihasilkan dari gasifikasi batu bara ini," imbuh Rio.

Halaman :

Terkini