Inovasi Energi Surya Tingkatkan Nilai Ikan Papua dan Kesejahteraan Nelayan

Selasa, 03 Februari 2026 | 10:46:55 WIB

JAKARTA - Potensi perikanan Papua dikenal melimpah, namun tantangan pasca panen sering kali menjadi penghambat utama nelayan dalam mendapatkan nilai ekonomi yang layak. Di sinilah hadir sebuah inovasi berbasis teknologi surya yang dirancang untuk mengatasi permasalahan tersebut dan mengangkat nilai ikan hasil tangkapan. Program ini membuka peluang baru bagi nelayan Pulau Kosong dan wilayah pesisir lainnya untuk meningkatkan produktivitas serta pendapatan mereka tanpa membebani biaya listrik.

Potensi Besar Perikanan Papua dan Tantangan Pasca Panen

Papua, khususnya Kota Jayapura, merupakan wilayah yang memiliki potensi perikanan luar biasa karena letaknya yang langsung berbatasan dengan Samudera Pasifik di utara dan Laut Arafura di selatan. Potensi hasil laut di wilayah ini diperkirakan mencapai sekitar 1,3 juta ton per tahun, dengan komoditas unggulan seperti tuna, cakalang, dan tongkol. Produksi ikan tangkap di Kota Jayapura saja bisa mencapai sekitar 45 ton per tahun.

Walaupun produksi melimpah, nelayan di Pulau Kosong, Kampung Kayo Pulo menghadapi kendala besar ketika musim ikan tiba. Fasilitas pengeringan yang minim membuat mereka sering kali mengeringkan ikan di sepanjang jembatan umum. Lokasi penjemuran yang terbuka tersebut bukan hanya tidak higienis, tetapi juga berisiko tinggi terhadap kontaminasi bakteri dan kualitas produk yang menurun tajam.

Kondisi ini membuat tingkat kerusakan ikan bisa mencapai angka yang cukup tinggi — bahkan sampai 75 persen — terutama di masa ikan melimpah ketika belum tersedia fasilitas pengeringan. Dalam kondisi tersebut, masa simpan ikan segar juga sangat pendek, hanya sekitar 1–2 hari saja.

Solusi Teknologi Surya untuk Pengolahan Ikan Pasca Tangkap

Melihat permasalahan tersebut, tim pengabdian dari Universitas Cenderawasih (Uncen) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menghadirkan teknologi pengering berbasis tenaga surya yang dimodifikasi khusus untuk kebutuhan nelayan. Teknologi ini berupa alat penyimpanan ikan yang dilengkapi tutup efek rumah kaca sehingga proses pengeringan dapat berlangsung lebih cepat, terkontrol, serta minim risiko kontaminasi bakteri.

Inti dari teknologi ini memanfaatkan energi matahari yang ditangkap oleh solar cell (sel surya). Energi tersebut kemudian disimpan dalam baterai sebelum diubah menjadi listrik yang dialirkan ke tempat penyimpanan dan pengeringan ikan. Tujuannya tidak hanya menjaga kualitas ikan, tetapi juga mengurangi beban penggunaan listrik rumah tangga nelayan yang selama ini sering menjadi kendala dalam pengolahan hasil tangkapan.

Dengan alat ini, waktu pengeringan yang sebelumnya membutuhkan 3–4 hari jika hanya mengandalkan sinar matahari langsung, kini bisa dipangkas drastis menjadi sekitar 4–5 jam. Hal ini memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas nelayan serta kualitas hasil olahan ikan.

Menurut Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan FMIPA Uncen, Popi L. Ayer, tanpa adanya fasilitas pengeringan yang layak, kerugian nelayan sangat besar. Namun dengan inovasi yang diperkenalkan tim pengabdian, masa simpan ikan bisa meningkat menjadi 3–5 hari, sementara tingkat ikan yang rusak bisa turun drastis dari sebelumnya 75 persen menjadi kurang dari 20 persen. Kapasitas pengeringan juga meningkat signifikan, dari semula hanya sekitar 100 kilogram per minggu menjadi 300 kilogram per minggu.

Dampak Nyata bagi Masyarakat Nelayan Pulau Kosong

Pulau Kosong, yang hanya seluas sekitar tiga hektare dan dihuni oleh kurang lebih 150 kepala keluarga, hampir seluruhnya menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Di pulau kecil ini terdapat sekitar 20 kelompok nelayan yang bergantung pada hasil laut sebagai mata pencaharian utama.

Nelayan setempat menyatakan bahwa periode melimpah ikan hanya terjadi sekitar Februari hingga Agustus setiap tahunnya. Di luar musim tersebut, hasil tangkapan biasanya menurun drastis atau bahkan tidak ada sama sekali. Dalam situasi seperti ini, fasilitas pengolahan hasil tangkap yang baik menjadi sangat penting untuk menjaga nilai ekonomi sebelum ikan tersebut dijual atau dikonsumsi.

Kehadiran teknologi pengering berbasis tenaga surya tidak hanya membantu menekan tingkat kerusakan ikan, tetapi juga memberi peluang baru dalam hal tenaga kerja. Istri-istri nelayan kini bisa turut serta dalam proses pengeringan ikan, baik untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual di pasar. Hal ini memperluas kesempatan ekonomi di luar kegiatan melaut yang selama ini identik hanya dilakukan oleh para pria nelayan.

Peran Pemerintah dan Arah Kebijakan Teknologi Tepat Guna

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi membawa nilai ekonomi nyata bagi masyarakat nelayan. Menurutnya, teknologi pengeringan ini telah mengangkat taraf hidup nelayan melalui pemanfaatan energi terbarukan, sekaligus menjadi bagian dari arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak”.

Teknologi ini kini didukung penuh oleh pemerintah, termasuk upaya mendorong penggunaan teknologi tepat guna di pulau-pulau kecil lainnya di Papua. Dukungan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam memperluas adopsi teknologi yang tepat guna dan berkelanjutan di sektor perikanan, sehingga tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.

Dengan inovasi teknologi surya ini, nelayan Papua kini memiliki harapan baru untuk mengatasi tantangan pasca panen — dari kerugian besar hingga peningkatan nilai jual ikan. Ini menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna, bila dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat lokal, mampu menciptakan perubahan nyata dalam kesejahteraan ekonomi nelayan dan kehidupan masyarakat pesisir di Indonesia bagian timur.

Terkini